Atraksi dan Seni Budaya
Atraksi yang ada di Desa Turgo kurang lebih adalah kegiatan masyarakat, pengamatan burung, dan pengolahan teh serta kopi. Namun untuk teh dan kopi belum ada tempat pengolahan dan penampungannya sehingga jika ada turis yang ingin melihat maka biasanya akan diantarkan ke rumah warga yang sedang memproduksi. Seni dan budaya yang ada disini juga tidak sedikit contohnya seperti adanya kegiatan Sloko dan Laras Madya yang merupakan senandung pujian dengan bentuk kegiatan seperti karawitan yang diiringi oleh gamelan, dahulunya kegiatan ini sering dilaksanakan setiap malam minggu. Selain itu ada juga kegiatan seperti Kethoprak, Jathilan, Kenduri ketika Suro, dan Saparan yang dilakukan di Bulan Sapar.
Karawitan
Karawitan adalah seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog. Kesenian ini terkenal di Pulau Jawa, Madura, dan Bali. Istilah karawitan berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “rawit” yang berarti halus dan lembut. Jadi karawitan berarti kelembutan perasaan yang terkandung dalam seni gamelan. Karawitan merupakan salah satu jenis musik tradisional yang berasal dari Jawa, tumbuh dan berkembang di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur.
Kethoprak
Ketoprak (bahasa Jawa: ꦏꦼꦛꦺꦴꦥꦿꦏ; baca: kêthoprak) adalah sejenis seni pentas drama tradisonal suku Jawa. Kesenian ini dapat ditemukan di Ponorogo, Tulungagung Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta di Jawa Tengah seperti Kabupaten Semarang, Kota Semarang, Kabupaten Banyumas, dsb. Kesenian ini juga sering disebut sebagai Kêthoprak Mataram.
Malam Satu Suro
Tahun Baru Jawa (bahasa Jawa: ꦠꦲꦸꦤ꧀ꦲꦚꦂꦗꦮ, translit. Taun Anyar Jawa; Petjo: Javaans Nieuw Jaar) merupakan perayaan terpenting bagi orang Jawa. Peringatan tahun baru Jawa dimulai pada hari pertama bulan Sura (ꦱꦸꦫ; sura) di penanggalan Jawa yang dibuat oleh Ingkang Sampeyan Ndalem Sri gusti Kanjeng Sinuwun Sultan Agung Prabuhadihanyokrokusumo. Bulan Sura dianggap keramat oleh masyarakat Jawa. Tahun baru Jawa biasanya diperingati pada malam hari setelah terbenamnya matahari. Pandangan dalam masyarakat Jawa, hari ini dianggap kramat terlebih bila jatuh pada jumungah legi (jumat). Untuk sebagian masyarakat pada malam siji sura dilarang untuk ke mana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.
Jathilan
Kuda Lumping (bahasa Jawa: ꦗꦫꦤ꧀ꦏꦺꦥꦁ, Jaran Kepang atau Jathilan, bahasa Indonesia: Kuda Lumping atau Kuda Kepang, bahasa Inggris: Kuda Pipih) adalah tarian tradisional Jawa yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia, yang menggambarkan sekelompok prajurit berkuda. Para penari “menunggangi” kuda-kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan dihiasi dengan cat serta kain warna-warni. Umumnya, tarian ini menggambarkan pasukan berkuda, tetapi jenis pertunjukan Kuda Lumping lainnya juga menggabungkan unsur kesurupan dan trik sulap. Ketika penari yang “kerasukan” melakukan tarian dalam kondisi kesurupan, ia dapat menampilkan kemampuan yang tidak biasa, seperti memakan kaca dan menahan cambukan atau bara api.
Laras Madya
Santiswara Larasmadya merupakan bentuk kesenian tradisional yang berkembang pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana V, di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Penamaannya berasal dari gabungan dua kata, yakni santiswara dan larasmadya. Istilah santiswara terdiri atas kata santi, yang berarti doa, dan swara, yang berarti suara atau nyanyian, sehingga dapat diartikan sebagai doa yang dilantunkan melalui senandung. Adapun larasmadya berasal dari kata laras, yang berarti irama, dan madya, yang bermakna sederhana atau bersahaja. Secara keseluruhan, Santiswara Larasmadya merujuk pada bentuk doa atau puji-pujian yang dilantunkan dalam bentuk tembang atau nyanyian dengan irama yang tenang dan sederhana.