Sejarah Desa Wisata

Pada tahun 2018 akhir Pak Teguh melakukan ke Pentingsari dan Nglanggeran, kemudian beberapa tokoh masyarakat diajak oleh TNGM untuk merintis desa wisata yang berbasis eduwisata terkait keanekaragaman hayati. Dahulu belum ada legalitas kelompok, hanya menyediakan buku kunjungan. Pada 2019 dibentuk kepengurusan dan administrasi kelembagaan, akhirnya pada 2020 dapat SK perintisan. Dahulu belum bermedia-sosial karena masih menyiapkan pelaku wisata dan atraksi di dalam desa wisata, namun saat ini sudah ada 3 orang pemandu wisata yang bersertifikasi.

Sejarah Desa Turgo

Menurut catatan Syeikh Jumadil Kubro pada 1126 berada Turgo dan berkegiatan di Tritis dan menurut peta Belanda, ada permukiman di Turgo bernama Tuergo dalam bahasa Belanda yang bertempat di dekat area makam atau parkiran saat ini. Menurut mitologi yang menyebar di masyarakat dahulu pada masa awal Kerajaan Mataram ada 3 bersahabat yang melakukan pelarian dari arah timur ke barat, salah satunya bernama Cokropodo yang berlari ke Turgo dan sekarang dimakamkan di daerah sana sehingga daerah sekitarnya dinamakan Cokropadan. Dalam bahasa Jawa Turgo adalah singkatan dari “Genturke Raga” yang berarti tempat puncaknya pertapaan. Pada tahun 1994 terjadi erupsi Gunung Merapi yang mengharuskan warga direlokasi di bawah dan hingga saat ini daerah itu dinamakan Turgo Relokasi, namun sebagian warga ada yang kembali ke atas dan ada juga yang menetap di daerah relokasi.

Jelajahi Wisata Turgo

Seni Budaya

Kuliner

Location

Dusun Turgo, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kab. Sleman

Our Hours

7 AM- 7 PM

Scroll to Top